Sebagian Ortu sekarang-sekarang ini mencari jalan lain
selain sekolah-sekolah formal. Sebagian mereka mencari jalan yang lebih baik
untuk mendidik anak-anak mereka. Sebagian mereka ingin mengkolaborasikan antara
pendidikan Agama dengan Akademic yang dianggap timpang sebelah. Sebagian mereka
melirik suatu ide alternatif untuk menerapkan sistem pendidikan sekolahrumah.
Salah satu yang menyebabkan hal ini terjadi adalah dengan terlalu banyaknya
mata pelajaran yg seorang siswa harus pelajari & kuasai disekolah mereka baik
sekolah nasional, internasional maupun mix, padahal untuk basic materi
pengetahuan, seorang siswa dapat ber-googling di internet (mencari &
membaca artikel lewat google). Disisi lain, sebagian ortu menuntut seorang anak
untuk memiliki ijazah/sertifikat sekolah, agar (katanya) urusan kehidupan
dunianya lebih mudah.
Para Ulama Salaf selau menekankan hifdhul Quraan kpd
anak-anak Kaum Muslimin. Begitu juga seorang Muslim haruslah menekankan
pendidikan Agama kpd anak-anak mereka sejak usia dini spt (Tauhid, Aqidah,
Hifdhul Quraan, Bhs.Arab, Akhlaq, Fiqih) tapi sayangnya System Pendidikan Agama
Islam disekolahan diIndonesia sangatlah minim, itupun jika sekolahan2 tsb
mengajarkan banyak mata pelajaran agama kpd anak didik mereka, tidaklah
terlihat atsar (bekas) dari apa yg telah siswa tsb pelajari.
Pendidikan pondok-pondok pesantren ahlussunnah, alhamdulillah suatu kenikmatan yg luar biasa yg bisa kita rasakan, dawah Tauhid mulai tersebar, mengajarkan anak-anak sampai dengan masyarakat mengenal sunnah rosul 'alahissalatuwassalam. Pun bagi anak2 yg telah terdidik selama belasan tahun diponpes2 tsb yang qaddarullah tidak jadi/mampu berangkat ke Jami'ah2 or Universitas2 di Saudi Arabia ataupun ke Marakiz2 Ahlussunnah di Negri Yemen, sebagian mereka futur (enggan untuk tetap belajar diin diponpes2 tsb & lebih memilih bekerja sedangkan mereka tidak punya keahlian apapun) akan kemana remaja2 ini dimana ilmu diin mereka setengah-setengah apa lagi mereka tidak mempunyai keahlian apapun. Jawabannya adalah dhayaa' (remaja pengangguran).
Pendidikan pondok-pondok pesantren ahlussunnah, alhamdulillah suatu kenikmatan yg luar biasa yg bisa kita rasakan, dawah Tauhid mulai tersebar, mengajarkan anak-anak sampai dengan masyarakat mengenal sunnah rosul 'alahissalatuwassalam. Pun bagi anak2 yg telah terdidik selama belasan tahun diponpes2 tsb yang qaddarullah tidak jadi/mampu berangkat ke Jami'ah2 or Universitas2 di Saudi Arabia ataupun ke Marakiz2 Ahlussunnah di Negri Yemen, sebagian mereka futur (enggan untuk tetap belajar diin diponpes2 tsb & lebih memilih bekerja sedangkan mereka tidak punya keahlian apapun) akan kemana remaja2 ini dimana ilmu diin mereka setengah-setengah apa lagi mereka tidak mempunyai keahlian apapun. Jawabannya adalah dhayaa' (remaja pengangguran).
Ada yang namanya standar seorang siswa ditingkat basic
yang harus ia pelajari spt: Islam, Matematika, Bhs.Inggris, Bhs.Indonesia.
Dengan adanya mata pelajaran-mata pelajaran tsb, pada tahapan awwal insyaallah
seorang siswa akan mampu untuk naik pada level selanjutnya. Ditambah dengan
skill seperti IT insyaallah seorang siswa akan siap menghadapi tantangan dimasa
datang.